Struktur, Kader dan Caleg, Elemen Kemenangan PKS

Suhfi MajidMALUKU - Dalam kancah perpolitikan Nasional, PKS telah mengikuti 3 kali  Pemilu, yakni tahun 1999, PKS yang sebelumnya bernama Partai Keadilan. Partai ini kemudian tidak lolos electoral  Threshold, dan harus berproses ulang untuk mengikuti Pemilu tahun 2004. Sampai pada pemilu  terakhir (2004 dan 2009) barulah PKS mengalami progress yang positif. Termasuk PKS Maluku.

Ini dibuktikan dengan perolehan 1 kursi di DPRD Propinsi Maluku pada pemilu 1999. Pemilu 2004, kursi PKS meningkat menjadi 5 kursi. Terakhir, pemilu 2009, bertambah menjadi 6 kursi. Trend perolehan suara PKS terus mengalami progress.
Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Maluku, Suhfi Majid menjelaskan, representasi dalam bentuk perolehan kursi tersebut tentu juga diikuti dengan kerja-kerja  kader PKS di parlemen untuk mengawal kebijakan yang pro kepada publik serta menegaskan  eksistensi ke masyarakat dalam bentuk kerja pelayanan.

“Alhamdulillah, dalam ranah perpolitikan di Maluku, saya kira PKS juga telah memiliki tempat untuk  berkontribusi bagi masyarakat, baik dalam sistem dan proses perpolitikan, penentuan kebijakan  maupun momentum demokrasi lainnya seperti Pemilihan Kepala Daerah,”ujarnya saat diwawancarai Ambon Ekspres, Sabtu (18/1).

Secara nasional telah beberapa kali PKS melaksanakan Election Update yang merupakan bagian dari strategi rekrutmen kader. Wadah untuk menyusun langkah, strategis dan mapping lompatan-lompatan capaian pada Pemilu 2014. Produk election  Update berupa milistone yang dijadikan sebagai titik gerak bagi seluruh elemen partai, baik struktur, kader maupun Calon anggota Legislatif (Caleg) untuk membumikan PKS di masyarakat. Jika pendekatannya adalah rekrutmen Kader, PKS sejak berdirinya telah memiliki sistem Kaderisasi yang  permanen, terstruktur, terevaluasi dan berjenjang.

“Dan selama ini, produk dari sistem kaderisasi yang terintegrasi itu telah menghasilkan SDM PKS yang dapat memberikan pengabdian dengan kesadaran utuh. Basis kaderisasi PKS kami jadikan  sebagai School Of Leadership atau sekolah kepemimpinan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa  kepemimpinan dalam berbagai level terutama di legislatif dan eksekutif adalah produk pemilu  dimana partai politik memiliki peran menentukan,”lanjut anggota DPRD Provinsi Maluku ini.

Dia pun menilai, banyak kekuatan politik yang  mengalami failure (kegagalan) untuk urusan ini karena sistem rekrutmen yang sifatnya tergesa-gesa, tidak matang karena pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya sangat politis. Akibatnya harapan  dari parpol agar kepemimpinan bisa membawa nilai agak mengalami degradasi.

 “Kami menyasar seluruh segmentasi pemilih dengan berbagai latar belakang. Dengan pembagian peran masing-masing. Konsep pembagian peran seperti ini akan membuat kerja besar seperti Pemilu 2014 menjadi lebih ringan. Ada kerja bersama, kerja kolektif dan terstruktur,”paparnya.

Terkait dengan struktur partai, anggota komisi D DPRD Provinsi Maluku ini mengatakan, sudah terbangun merata. Sejak berdirinya DPW PKS Maluku memberikan penekanan spesifik terhadap pembentukan struktur PKS dari kabupaten hingga desa. Karena elemen struktur ini dinilai bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Dari 11 kabupaten/kota, PKS telah memiliki struktur Dewan Pengurus Daerah (DPD) di 10 Kab/kota termasuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Struktur DPC hampir terbentuk di seluruh kabupaten, sementara DPRa (Rayon) presentasi struktur yang sudah terbentuk sudah cukup banyak.

PKS memandang, ada 3 eleman utama pemenangan pemilu, yakni struktur, kader dan caleg. Struktur akan mengendalikan fungsi kerja dari Kader dan Caleg, membangun sistem dan memetakan kerja teknik yang fokus pada capaian-capaian pemenangan. Elemen struktur partai yang menyebar tersebut, memudahkan DPW PKS Maluku mendistribusikan kerja-kerja besar tersebut. “Ada sistem manajemen pemenangan integratif yang kita bangun untuk memastikan seluruh struktur bergerak dengan resonansi yang seragam,”sebutnya.

Selain itu, hal serupa juga diharapkan untuk menata kerja Kader dan Caleg. PKS sendiri lanjutnya, memiliki forum Election Update di Kabupaten/Kota maupun rapat-rapat koordinasi untuk membangun kerja terkoneksi antara Caleg dan kader.

Menurutnya, pemilu 2014 berbeda dengan pemilu 2009 karena dua hal. Pertama, jumlah peserta lebih sedikit karena tinggal 12 partai politik dan naiknya Parlement Treshold menjadi 3,5% persen untuk penetapan kursi DPR RI. Faktor ini dinilai turut berpengaruh terhadap kompetisi antar parpol dan caleg.

“Maka kompetisi pada pemilu 2014 akan menjadi lebih terbuka. Parpol akan sangat serius mengawal seluruh agenda kerja mereka agar suara mereka di Pemilu 2014 signifikan sesuai dengan target yang ditetapkan. Suasana awal tersebut sudah terlihat ketika tahapan perekrutan caleg dimulai,” bebernya.

Namun demikian, kata dia, PKS telah memiliki pengalaman pemilu sebanyak 3 kali dan itu cukup untuk menciptakan bacaan secara menyeluruh bagi PKS terhadap pemilu dan kompetisi yang akan terjadi pada Pemilu 2014.

Soal instruksi DPP PKS untuk meningkatkan elektabilitas calon Presiden dari PKS memang belum ada. Namun kegiatan menuju rencana itu telah dilakukan, yakni dengan Pemilihan Rakyat (Pemira) yang melibatkan kader dan struktur PKS. Hingga sekarang DPP PKS baru mengumumkan 4 capres dengan presentasi suara tertinggi hasil pemira, yakni DR Hidayat Nur Wahid, M Anis Matta, Ahmad Heryawan dan Nurmahmudi Ismail.
“Intinya, ada intsruksi itu. Penetapan Capres yang akan diusung oleh PKS nantinya adalah kewenangan Majelis Syuro.

 

SUMBER

comments
002211260
Hari Ini
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
682
3488
42786
53209
2211260
IP Anda: 54.83.241.88
Tanggal Server: 2014-07-30
Realtime website traffic tracker, online visitor stats and hit counter